Showing posts with label kerja sama. Show all posts
Showing posts with label kerja sama. Show all posts

Friday, February 22, 2013

Menjadi Majikan Bagi Nasib Diri Sendiri

Miskin dan kaya adalah nasib ” ini adalah mitos yang berlaku di dalam masyarakat, khususnya di negara berkembang. Tak terkecuali di negara kita, Indonesia.
Kita sering mendengar, bahkan mungkin termasuk di antara kita pernah berucap; miskin sudah merupakan nasib kita. Bagaimanapun kita bekerja keras, tidak mungkin berubah, karena ini sudah suratan takdir. Sebaliknya, kalau nasib kita sudah ditentukan kaya dari “sononya”, maka usaha apa pun, bahkan kerja “seenaknya” bisa menjadikan kita sukses dan kaya.
Mitos seperti ini, sadar atau tidak, sudah diterima secara dogmatis di dalam masyarakat kita. Ditambah dengan mitos-mitos modern yang destruktif, seperti; bila kita berpendidikan rendah (hanya lulusan SMA/SMP/bahkan SD) maka spontan yang timbul di benak kita; kita sulit maju, sulit sukses dan kaya. 

Dengan persepsi seperti ini, jelas kita telah terkena penyakit mitos yang menyesatkan. Hal ini akan mempengaruhi sikap mental dalam praktek di kehidupan nyata, sehingga menghasilkan kualitas hidup “ala kadarnya” atau sekedar hidup. Jika mitos ini dimiliki oleh mayoritas masyarakat kita, bagaimana mungkin kita bisa mengentaskan kemiskinan untuk menuju pada cita cita bangsa , yaitu; masyarakat adil-makmur dan sejahtera.

Tuesday, October 27, 2009

Hidup, Belajar Dari Kesalahan

Pikiran manusia memang sulit untuk dikendalikan, Dalam hidup, terkadang kita banyak mengunakan pembenaran untuk hal yang sebenarnya salah / kurang baik, dalam hal ini adalah karena untuk pembelaan terhadap diri sendiri.
Dan terkadang kita tidak dapat melihat kebenaran dan kebaikan yang dilakukan oleh orang lain, yang dalam hal ini dikarenakan oleh iri hati atau ketidaksukaan pribadi.
Sulitnya melihat kebaikan sebagai kebaikan, kesalahan sebagai kesalahan.
semua dikarenakan sangat sulit untuk menilai diri sendiri,
Sulit membangkitkan kebaikan di dalam diri, dan sulit mengendalikan kesalahan diri sendiri.

Apapun itu selama kita dapat mempelajari sifat-sifat kita, menyadari semua kesalahan kita, dan berusaha untuk mengubah diri kita kearah yang benar dan positif, semua adalah baik adanya dalam hidup kita.
Tidak ada orang yang selama hidupnya tidak pernah berbuat kesalahan, tetapi kita dapat belajar dari kesalahan. Apapun harus dapat diterima, apapun harus mau dipelajari ( dalam konteks hal yang positif ). maka kita akan menjadi lebih baik lagi.

Friday, October 16, 2009

We Create Our Life


Menangislah sejadi-jadinya dalam semalam..
Karena esok harus mulai merintis masa depan..

Tidaklah mungkin bagi manusia untuk hidup tanpa menghadapi masalah dan kesedihan. Dan tidak ada pula manusia yang dilahirkan dalam bentuk “PERFECT”. Sepintar-pintarnya atau setampan-tampannya dia pasti tetap memiliki kecacatan (imperfect).


Kebanyakan orang mengalami stress yang amat sangat begitu menghadapi masalah, karena mereka beranggapan bahwa hidup itu bebas dari masalah, Padahal sesungguhnya dengan adanya masalah dan kesedihan, orang-orang dapat bertahan hidup dan menciptakan masa depannya, dan karena ada masalah jugalah seseorang baru dapat menghargai hidupnya. Keinginan bebas dari masalah tentu diinginkan banyak orang, termasuk juga saya dan Anda sekalian :)

Tetapi apakah hidup kita bisa demikian? Tanpa masalah? Tentu tidak donk.. ”Life Is Not Flat”. Hidup kita tidak sedatar layar televisi LCD atau Plasma, juga tidak sedatar kaya jendela. Hidup penuh dengan lika-liku, demikian pula masa depan kita penuh suka dan duka.
Bila kita melihat masalah tersebut sebagai sebuah keindahan. Maka hidup kita akan indah, tetapi bila kita melihat masalah sebagai penderitaan yang amat sangat penuh bebas, maka hidup ini pun serasa di neraka dan terasa penuh beban hidup.

Ada sebuah cerita tentang teman kantorku yang begitu luar biasa. Seperti biasa kami masuk kerja jam 8. Di kantor ada wakil pimpinan yang suka uring-uringan dan terkadan lampiasin ke karyawan yang lain ( kita sebut saja si X) . Pagi-pagi temanku datang udah kena semprot si X yang sedang uring-uringan.

Yah tentu saja kita bisa bayangin betapa dongkolnya hati kita kalau misalnya kita dimarahin tanpa sebab dan alasan yang jelas. Sesampainya di lantai atas kantor tempat aku bekerja, dia pun cerita tentang seluk beluk peristiwa nya. Sampai ada sebuah celotehnnya yang membuat aku sangat tertarik yaitu saat temanku mengatakan “ Jangan membiarkan omelan dari dia (red si X) membuatku bad mud dan merusak hari-hariku yang bahagia ini".

Sungguh luar biasa, dia dapat mengubah dari suatu masalah menjadi suatu faktor pendorong yang dapat memicu agar dia menjadi lebih giat dan semangat dalam bekerja. Dia dapat mengubah energi negatife yang dia terima menjadi energi positif, dimana omelan yang dia terima dapat dia redam tanpa melampiaskan lagi ke orang lain. Kalau dilampiasin lagi kan jadinya energi negatif menjadi energi negatif lagi :)

Jangan karena satu masalah dan kita membuat masalah yg baru,
Jangan karena satu masalah membuat kita menderita selamanya,
Jadikan masalah sebagai tantangan untuk diselesaikan, jadikanlah masalah sebagai batu loncatanmu untuk sebuah kesuksesan.
Bila lari dari masalah sesungguhnya didepan sana masalah yang lebih besar akan menghadang dirimu…
Bila tidak lari dari masalah, maka bila ada masalah yang timbul lagi kemudian, setidaknya kau sudah jauh lebih kuat, lebih tegar dan lebih bijak dalam melihat semua duduk permasalahannya.
____________________________________
“Sungguh mudah untuk merasa senang
Bila hidup mengalun bagaikan nada
Tetapi manusia yang berharga
Adalah dia yang dapat tersenyum
Ketika hidup sedang suram”
____________________________________
Jadi, mau dibawa kemana hidup dan masa depan kita ini? kita sendiri yang menentukannya..


Share/Save/BookmarkSubscribe

Thursday, October 8, 2009

Keterbatasan & Masalah ( Bukan ) Akhir Hidup ???

Tak ada manusia yang terlahir sempurna
Jangan kau sesali segala yang telah terjadi
Kita pasti pernah dapatkan cobaan yang berat
Seakan hidup ini tak ada artinya lagi

Syukurilah apa yang ada

Hidup adalah anugerah

Tetap jalani hidup ini
Perlakukan yang terbaik.
Tuhan pasti kan menunjukkan kebesaran dan kuasanya
Bagi hambanya yang sabar dan tak kenal putus asa...



Kisah yang inspirasional buat renungan masa depan kita. Kisah ini pernah diputar di Kick Andy seminggu yang lalu. Pada malam itu acara Kick Andy mengambil topik bertahan hidup ditengah keterbatasan fisik ( melawan nasib demi masa depan).
Keterbatasan fisik yang ditampilkan ada bermacam-macam, ada yang tuna netra, ada yang cacat tidak mempunya kaki sejak lahir, ada yang tidak mempunyai kaki dan memiliki tangan yang sangat kecil..

Salah satu kisah yang aku ambil yaitu tentang Pak Sidik ( pada gambar Bapak yang memakai baju merah ).
Bapak ini mempunyai keterbatasan fisik tidak mempunyai kaki, hal ini dialaminya sejak lahir. Pak Sidik ini walaupun dengan kondisinya yang demikian, dia dapat mencukupi kebutuhan keluarganya. Setiap pagi dengan menggunakan sepeda motor, dia musti membawa kerupuk-kerupuk ke warung langganannya. Ingat bahwa bapak tersebut cacat !!!

Apa jadinya kalau Pak Sidik tersebut putus asa dan menganggap hidupnya dan masa depannya sia-sia?
Tentu dia tidak akan bisa mandiri seperti saat ini. Walaupun dia tidak mempunyai kaki tetapi dia masih memiliki semangat hidup yang luar biasa untuk hidup dan merintis masa depannya. Dia dapat memilih jalan hidup mandiri yang tepat tanpa mengharapkan bantuan belas kasihan dari orang lain.

Tentu kita dapat mengambil hikmah dari kisah itu, dia dapat membuat kecacatan fisik yang dia alami seakan tidak berarti. Dia dapat terus merintis masa depannya walaupun dengan kondisi demikian. “Dari Fisik yang tidak sempurna dapat menjadikan Hidupnya Sempurna”.


























































Demikian juga gambar diatas yang tak lain dan tak bukan merupakan gambar yang diambil setelah bencana yang melanda kota Padang.
Saya juga turut mengucapkan belasungkawa buat keluarga yang ditinggalkan oleh korban dan semoga amal ibadahnya diterima oleh Yang Maha Kuasa.

Dari peristiwa ini pun saya mendapat pelajaran yang amat berharga, yakni agar dapat menghargai hidup dan masa depan kita. Bencana ini nyaris saja menghancurkan kota Jambi dengan pusat gempa di Kerinci, tapi untung saja bencana ini tidak terjadi. Kita dapat bayangkan betapa pilu jika melihat di televisi, betapa banyak korban dan betapa mirisnya nasib korban-korban yang selamat.

Semoga masyarakat Padang diberi kekuatan okeh Yang Maha Kuasa dan dapat mengambil himah dari bencana ini. Dan rekonstruksi kota Padang akan menjadikan masa depan kota ini lebih cerah, sehingga kota Padang kembali menjadi kota Padang yang indah.
Ingat kalau Tuhan tidak pernah menguji umatnya melebihi kemampuan yang dipunyainya.

Jadi bagaimana, apakah sekarang kita tetap menganggap keterbatasan dan masalah
sebagai akhir hidup?
atau keterbatasan dan masalah
bukan sebagai akhir hidup?

Semuanya tergantung dari kita sendiri :)



Share/Save/BookmarkSubscribe

Saturday, September 19, 2009

Hikmah Sebuah Kata

Di suatu kampung bernama kampung manggis tinggal seorang pemuda bernama Banu, di kampungnya Banu terkenal brutal dan emosinya yang tidak terkontrol.
Dengan sikapnya yang begitu dia bukannya disegani masyarakat. Eh malahan dia ditakuti dan kalau bisa mereka tidak mau cari masalah dengan dia. Salah-salah malahan bogem mentah melayang.

14 September 2009, Kampung Manggis, 12:34.
Hari itu panas matahari terasa sangat menyengat. Si Banu jalan-jalan di pasar buat membeli keperluan sehari-hari (maklum si Banu kan gag pernah puasa ). Seperti biasa tiap kali Banu jalan-jalan di pasar pasti serasa jalan itu punya engkong nya. Bukan berarti jalanan sepi senyap kayak kuburan lho. Ternyata masyarakat yang ada udah pada nyingkir radius 1 meter dari dia. Salah-salah ada yang nyenggol si Banu, pulang-pulang muka hijau lebam,

Udah udara panas banget tambah masyarakat tidak mau “memperpanas” situasi. Sengaja neh masyarakat tidak mau berurusan dengan si Banu, tiba-tiba ada Bapak paruh baya yang sedang buru-buru menabrak dia sampai barang belanjaannya Banu jatuh berceceran di lantai. Dapat ditebak gimana reaksi si Banu. Mukanya jadi merah, luapan emosinya udah sampai ke ubun-ubun.

Banu : “Hei pak matamu di taroh di mana?”
Banu :”Jelas-jelas badan gwa sebesar ini apa masih kurang gede”

Tanpa sempat berkata apa-apa, Bapak yang gemetaran tersebut langsung di cangking kerah bajunya dan diberi 3 tinjuan.
Masyarakat yang lalu lalang pun hanya dapat iba atas nasib Bapak tersebut dan sepeninggal Banu langsung membantu Bapak tersebut berdiri.


16 September 2009 Kampung Manggis, 14.20.
Saudara si Banu datang dari kampung seberang. Orangnya tenang, sabar, dan tidak gampang emosian, jauh berbeda dengan Banu. Pemuda itu bernama Iman.
Besok nya si Iman ceritanya minta diajak jalan-jalan sama si Banu. Maklum si Iman belum pernah datang ke kampung nya Banu.
Seperti biasa jalan-jalan seakan milik mereka berdua. Kayak jalan tol bebas hambatan, tentu saja karena perangainya Banu.

Ceritanya lagi ada seorang kakek yang menabrak Iman. Bruuuuuuk, keduanya terjatuh. Si Banu membantu Iman berdiri dan kakek tersebut bangun sendiri. Si Banu ikut naik pitam biarpun bukan dirinya yang ditabrak tetapi saudaranya.

Iman : “Kek, Maaf yah udah nabrak kakek. Apakah ada yang luka?”
Kakek :”Gak apa cu, kakek juga salah habis kakek jalan asal nyelonong ajah.”
Pada hari itu si Banu diajarkan si Iman pelajaran berharga mengenai kata “Maaf”.

Pemandangan yang jauh berbeda jika kakek tersebut bertemu sama si Banu, dijamin suasananya pasti akan panas.
Banu tidak mau menerima alasan apapun, jika ada yang telah mengganggunya pasti tangannya ikut “bermain”. Bogem mentah pun melayang.
Dalam perjalanan pulang dia bertanya pada Iman.

Banu :”Man, kog tadi kamu biarin ajah tuh si kakek nabrak kamu?gak kamu hajar ajah tuh kakek?lagian juga bukan kamu yang salah ngapain minta maaf”
Iman :”Gag dunk nu, itu kan hal yang sepele. Emang sih si kakek yang nabrak tapi kan kasihan kalau dia musti digebukin.”
Iman :” Apalah arti kata “Maaf”, biarpun bukan kita yang nabrak dia doloan, tapi dengan adanya kata “Maaf” akan membuat suasana lebih nyaman dan tenang.
Banu :”?????”
Iman:
“
Minta Maaf tak berarti kalah.
Minta Maaf tak berarti lemah.
Memaafkan lebih bermanfaat daripada mendendam dan “main tangan”.
Kemampuan bukan datang dari kekuatan fisik. Kekuatan datang dari keinginan dan niat yang gigih dari dalam hati.”
Banu :”Ah, omong kosong ah dengan semua ini. Kagak percaya aku”


19 September 2009 Kampung Manggis, 15:30.
Suasana kampung diguyur hujan lebat. Karena besok udah lebaran si Banu dititipin enyak nya buat membeli keperluan lebaran. Banu yang sedang buru-buru sambil berlarian membawa belanjaan seabrek. Sesekali juga dia menggerutuk enyak nya karena menyuruh dia pergi belanja. Dipersimpangan jalan saking mau cepet-cepet pulang kerumahnya, dari sisi yang lain ada seorang pemuda juga yang berlari dengan kencang.

Akhrinya…Brakkk…tubrukan tidak terhindarkan dan kedua pemuda tersebut.
Kedua belanjaan pemuda tersebut berhamburan kemana-mana. Seperti biasa Banu naik pitam, dengan kesal dia mendatangi pemuda malang tersebut dengan tujuan mau menghajarnya. Tiba-tiba ada bunyi petir yang menyambar, ketika itu juga Banu teringat nasehat yang diberikan Iman kepada Banu

“Minta Maaf tak berarti kalah. Minta Maaf tak berarti lemah. Memaafkan lebih bermanfaat daripada mendendam dan “main tangan. Kemampuan bukan datang dari kekuatan fisik. Kekuatan datang dari keinginan dan niat yang gigih dari dalam hati.”

Sambil berjalan diapun merenungi maksud dari perkataan Iman tersebut sambil melakukan kilas balik perilaku yang dia pernah perbuat. Dia pun berpikir bahwa mungkin perbuatan yang dia lakukan itu agak keterlaluan, tapi dia juga berpikir tidak masalah donk kalau dia menghajar mereka wong emang salah mereka kog. Setan dan Malaikat pun berperang di dalam pikiran Banu. Sesampainya di tempat pemuda tersebut yang jatuh, ternyata Banu menyodorkan tangannya kepada pemuda tersebut dan meminta maaf dan mengakui itu kesalahannya. Biarpun sebenarnya itu bukan kesalahan dia.
Mulai saat itu Banu mulai belajar betapa berartinya kata “Maaf”. Dan saat itu pula julukannya Banu si “pemarah” menjadi Banu si “pemaaf”.

Manusia di kehidupannya sehari-hari, seringkali hanya karena masalah sepele bisa menimbulkan percekcokan, pertengkaran, permusuhan, bahkan dalam skala besar bisa menimbulkan peperangan. Semua berpangkal pada keinginan memuaskan ego atau gengsi manusia yang merasa benar sendiri, mau menang sendiri. Kalau itu tidak bisa dikendalikan dengan baik, maka akan timbul dampak kelanjutannya berupa lahirnya kebencian, dendam, dan penderitaan yang berkepanjangan.

Jika manusia mampu meredam ego, mau menang sendiri, dan berinisiatif mengakui kesalahan dan memohon maaf, seperti cerita di atas tadi, maka banyak masalah pertengkaran dan permusuhan bisa diredam bahkan dihilangkan. Sebagai gantinya, akan lahir kedamaian dan keharmonian yang seutuhnya.

Berhubung dapat moment yang pas buat saling bermaaf-maafan hendaknya kita mulai dari sekarang. Yang sifatnya masi pemarah seperti “Banu” hendaknya kita belajar seperti dia, sehingga dapat menjadi “Banu si pemaaf”. Bermaaf-maafan tidak hanya kita lakukan pada bulan ramadhan dan lebaran idul fitri saja lho. Mengakui kesalahan sendiri membutuhkan jiwa besar, dan berjiwa besar tentu butuh belajar dan berlatih, di setiap kesempatan.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430
Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin



Share/Save/BookmarkSubscribe

Thursday, May 14, 2009

Indah nya kerjasama memuluskan segalanya

Seekor kelinci sedang duduk santai di tepi pantai, Tiba tiba
datang se-ekor rubah jantan besar yang hendak memangsanya, Lalu
kelinci itu berkata: "Kalau memang kamu berani, hayo kita
berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi santapan
yang menang, dan saya yakin saya akan menang."

Sang Rubah jantan merasa tertantang, "dimanapun jadi, Masa sih
kelinci bisa menang melawan aku?" Merekapun masuk ke dalam sarang
kelinci, Sepuluh menit kemudian sang kelinci keluar sambil
menggenggam Setangkai paha rubah dan melahapnya
dengan nikmat.


Sang Kelinci kembali bersantai, Sambil memakai kaca mata hitam dan
topi pantai Tiba tiba datang se-ekor serigala besar yang hendak
memangsanya, Lalu kelinci berkata : "Kalau memang kamu berani,
hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang kalah akan jadi
santapan yang menang, dan saya yakin saya akan menang. "Sang
serigala merasa tertantang, dimanapun
jadi, Masa sih kelinci bisa menang melawan aku?"


Merekapun masuk ke dalam sarang kelinci, Lima belas menit kemudian
sang kelinci keluar sambil menggenggam Setangkai paha serigala dan
melahapnya dengan nikmat.

Sang kelinci kembali bersantai, Sambil memasang payung pantai dan
merebahkan diri diatas pasir, Tiba tiba datang seekor beruang
besar yang hendak memangsanya, Lalu kelinci berkata: "Kalau memang
kamu berani, hayo kita berkelahi di dalam lubang kelinci, Yang
kalah akan jadi santapan yang menang, dan saya yakin saya akan
menang. "Sang Beruang merasa tertantang, "dimanapun jadi, Masa
sih kelinci bisa menang melawan aku?" Merekapun masuk ke dalam
sarang kelinci, Tiga puluh menit kemudian sang kelinci keluar
sambil menggenggam Setangkai paha Beruang dan melahapnya dengan
nikmat.

Pohon kelapa melambai lambai, Lembayung senja sudah tiba, habis
sudah waktu bersantai, Sang Kelinci melongok kedalam lubang
kelinci, sambil melambai "Hai, keluar, sudah sore, besok kita
teruskan!!"

Keluarlah se-ekor harimau dari lubang itu, sangat besar badannya.
Sambil menguap Harimau berkata " Kerjasama kita sukses hari ini,
kita makan kenyang Dan saya tidak perlu berlari mengejar kencang."

RENUNGAN
The Winner selalu berfikir mengenai kerja sama, sementara
The Looser selalu berfikir bagaimana menjadi tokoh yang paling
berjaya.

Untuk membentuk ikatan persahabatan dan persaudaraan harus ada
kerendahan hati dan keikhlasan bekerja sama:
(Meskipun dengan seseorang yang kelihatannya tidak lebih baik dari kita)
Hindari sikap individualistis dan mau tidak mau bekerja sama dengan orang lain.
Karena dengan bantuan orang lain pula lah kita dapat sukses dan berhasil.